Ini Jenis Bahan Kimia yang Digunakan Jasa Disinfektan untuk Bunuh Virus

by ikhsan38

Jasa disinfektan marak dibutuhkan masyarakat untuk membantu membasmi mikroorganisme jahat yang bersarang pada benda mati yang jika terkontaminasi pada kulit bisa membahayakan kesehatan tubuh. Dalam penerapannya, pihak jasa akan menggunakan cairan disinfeksi yang terbuat dari bahan-bahan kimia tertentu dimana bisa membunuh virus atau bakteri tersebut. Berikut ini adalah beberapa bahan yang sering digunakan dan bagaimana dampaknya pada virus.

Etanol

Bahan kimia yang pertama adalah etanol di mana konsentrasi minimalnya adalah 60%. Dalam kinerjanya terhadap virus, etanol bisa melarutkan bagian lemak atau pun lipid yang terdapat di dinding virus. Dengan begitu, lama kelamaan si virus pun akan rusak karena paparan  bahan kimia tersebut.

Salah satu keuntungan penggunaan bahan kimia etanol ini penggunaan disinfektan adalah bisa larut dengan air. Kebanyakan jasa semprot disinfektan akan menggunakan bahan ini untuk membuat cairan disinfeksi yang juga bisa melarutkan virus yang bersifat non lipophilic virus.

Klorin

Bahan kimia yang satu ini sering digunakan oleh masyarakat ketika ingin membuat cairan disinfektan dengan mudah. Pasalnya klorin seringkali ditemukan di beberapa media kebutuhan pokok rumah tangga seperti pemutih pakaian. Tak heran, ketika maraknya virus Corona di masyarakat, permintaan akan pemutih pakaian semakin tinggi karena terdapat klorin di dalamnya.

Pada dasarnya, penggunaan klorin dalam zat disinfeksi oleh jasa disinfektan bisa membunuh virus dengan mudah. Cara yang ditempuh oleh bahan kimia ini adalah dengan masuk dan menembusnya sampai ke bagian dinding virus. Setelah bahan kimia ini masuk, maka virus akan dirusak dari dalam sehingga efektif dalam membunuhnya.

Beberapa golongan bahan kimia klorin pun beragam. Dari mulai klorin dioksida, asam hipoklorit, dan juga sodium hipoklorit. Sayangnya, bahan kimia ini sangat mudah sekali menguap ke udara. Sehingga bisa mencemari udara dan jika dihirup oleh manusia bisa memunculkan reaksi alergi seperti sesak napas, bahkan lebih parahnya hingga mengiritasi paru-paru.

Benzalkonium Klorida

Adapun bahan kimia lainnya, yaitu benzalkonium klorida yang juga bisa merusak dinding virus. Bahan ini termasuk pada jenis atau golongan surfaktan kationik dimana cukup ampuh dalam membunuh virus dan menghambat pertumbuhannya. Masyarakat pun banyak menggunakan bahan ini sebagai pembuat disinfektan. Meskipun begitu,bahan kimia yang satu ini pun bisa memicu reaksi alergi pada sistem pernapasan khususnya bagi orang yang punya riwayat sakit asma.

Hidrogen Peroksida

Dibandingkan dengan bahan lainnya, hidrogen peroksida merupakan bahan kimia terkuat karena merupakan senyawa oksidator. Bahan ini mampu merusak dinding virus dengan sangat mudah sampai merusak semua material yang ada di dalam virus. Meskipun begitu, hidrogen peroksida pun cukup membahayakan jika terkontaminasi langsung dengan tubuh manusia. Karena bisa mengiritasi kulit bahkan merusak jaringannya. Tak heran, pihak jasa disinfektan lebih jarang menggunakan bahan kimia jenis ini.

Gas Ozon

Selain beberapa bahan kimia tersebut yang sering digunakan untuk pembuatan disinfektan, ada juga bahan lain yang dipercaya bisa membunuh virus atau mikroorganisme jahat. Di mana itu adalah gas ozon yang bisa dijadikan alternatif sebagai zat disinfektan. Meskipun begitu, penggunaan gas ozon untuk membunuh virus maupun bakteri harus dibarengi dengan aturan pemakaian dan dosis yang tepat. Bahkan untuk dosis aman saja adalah kurang dari 0,3 ppm.

Selain itu, kelembaban udara pun harus jadi faktor penting dalam penggunaan gas ozon karena bisa bereaksi dan menimbulkan radikal buruk. Tak hanya itu, gas ozon pun merupakan senyawa atau gas toksik khususnya bagi manusia. Jika terpapar, bisa memicu beberapa masalah kesehatan seperti batuk, sesak napas, mulut kering, hingga sakit kepala terlebih jika penggunaannya dalam konsentrasi yang tinggi.

Beberapa bahan kimia tersebut adalah bahan yang digunakan para jasa disinfektan untuk membuat cairan disinfeksi. Meskipun mampu membunuh virus jahat, namun sebaiknya perhatikan juga dampak lain dan dosis yang tepat agar tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya.

 

Related Posts